PURWAKARTA – Dalam upaya mendukung ketahanan pangan nasional, Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein, yang akrab disapa Om Zein, menghadiri kegiatan panen raya padi bersama Korps Indonesia Muda (KIM) BroZein di Kampung Tegaljunti, RT 01 RW 04, Kelurahan Tegal Munjul, Kecamatan Purwakarta, pada Rabu, 20 Agustus 2025.
Kegiatan panen ini merupakan bagian dari kolaborasi antara masyarakat, relawan, dan KIM BroZein. Secara keseluruhan, total luas sawah yang ada di wilayah tersebut mencapai sekitar 36 hektar, dengan 2,5 hektar di antaranya dikelola secara intensif oleh tim KIM BroZein. Varietas padi yang dipanen adalah IR 64 Ciherang, varietas unggul yang dikenal memiliki kualitas baik dan tahan terhadap hama.
Dalam keterangannya, Bupati Om Zein menyampaikan apresiasi atas partisipasi masyarakat dalam program pertanian yang berkelanjutan.
“Lahan pertanian di sini dikelola oleh masyarakat, ada yang dikelola relawan, RT, dan lainnya. Total ada 36 hektar yang ditanami, dan hari ini kita panen padi varietas IR 64 Ciherang,” ujarnya.
Sementara Ketua KIM BroZein Kabupaten Purwakarta, Iwan Suhendar, menyampaikan bahwa hasil panen tahun ini cukup menggembirakan. Dikelola oleh relawan di bawah pimpinan Fauzi, lahan 2,5 hektar yang digarap menghasilkan panen lebih baik dari tahun sebelumnya.
“Alhamdulillah, panen tahun ini cukup bagus dibanding sebelumnya. Tahun lalu, dari 2,5 hektar menghasilkan 24 ton. Sekarang ada peningkatan sekitar 4 kuintal, dan kemungkinan hasilnya lebih tinggi lagi,” jelas Iwan.
Iwan juga menyoroti pentingnya perlindungan terhadap lahan pertanian di wilayah perkotaan. Ia berharap agar pemerintah dapat mengambil langkah untuk mematenkan status lahan pertanian, agar tidak dialihfungsikan menjadi permukiman atau kawasan komersial.
“Kita ingin lahan pertanian di kota ini tetap bertahan. Jangan sampai sawah-sawah ini berubah jadi bangunan. Kalau bisa, tanah pertanian dipatenkan agar tidak bisa dijual atau diwariskan untuk fungsi lain,” tambahnya.
Selain itu, Iwan mendorong generasi muda agar terlibat dalam dunia pertanian. Ia percaya bahwa bertani adalah pilihan masa depan yang mandiri dan berkelanjutan.
“Saya menempatkan basis relawan di daerah Tegaljunti agar anak-anak muda tertarik bertani. Memang panen 3 bulan sekali, tidak seperti kerja pabrik yang gaji bulanan. Tapi kalau kita punya lahan sendiri, kita tidak akan susah. Bertani adalah jalan untuk mandiri pangan dan tidak bergantung pada pihak lain,” pungkasnya.
Dengan dukungan dari pemerintah daerah dan keterlibatan aktif masyarakat, kegiatan ini menjadi contoh nyata bahwa kedaulatan pangan bisa dimulai dari desa-desa dan kota kecil, jika dikelola dengan baik dan berkelanjutan. (ME – PRO 93.1 FM)


