PURWAKARTA – Pemerintah Kabupaten Purwakarta, melalui Dinas Pendidikan, menggelar Festival Gandrung Mulasara Panen Karya Tatanen di Bale Atikan Tahun 2024. Acara ini berlangsung selama tiga hari dan diresmikan oleh Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Herman Suryatman, pada Kamis (26/12/2024) di Mandala Karsa, SKB Purwakarta.
Festival yang dihadiri sejumlah tokoh, termasuk Sekda Purwakarta Norman Nugraha, pejabat Kemendikdasmen, anggota DPRD Jabar Komisi IV, dan Bupati Purwakarta terpilih, menjadi ajang inovasi pendidikan berbasis budaya, ekologi, dan karakter.
Dalam sambutannya, Herman Suryatman menegaskan pentingnya pendidikan yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan.
“Prinsip hidup ini ada tiga dimensi: belajar dari masa lalu, memahami masa kini, dan bersiap menyongsong masa depan. Inovasi pendidikan di Purwakarta, yang berbasis budaya, karuhun, dan ekologi, sangat relevan untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045. Entry point-nya harus dimulai dari Jawa Barat,” ujarnya.
Herman juga mengapresiasi keberlanjutan program pendidikan Purwakarta yang dimulai sejak 2008, dengan fokus pada budaya dan ekologi sebagai fondasi transformasi pendidikan.
Sekda Purwakarta, Norman Nugraha, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk mendukung inovasi pendidikan.
“Kami mendorong kolaborasi antardinas untuk memastikan inovasi di Bale Atikan terus berkembang. Dukungan dari Baznas dan perangkat daerah seperti Dinas UMKM sangat membantu dalam menguatkan program ini. Kami ingin membangun peradaban yang adaptif dan berkelanjutan,” kata Norman.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta, Purwantono, menjelaskan bahwa festival ini merupakan edisi ketiga dengan pengembangan rangkaian acara menjadi tiga hari.
Program Unggulan Festival:
- Seminar Transformasi dan Ekologi: Diikuti oleh 100 peserta untuk membahas pendidikan berbasis lingkungan.
- Workshop Ekoprint: Mengajarkan siswa membuat produk batik dari daun-daun sekolah, termasuk SMPN 1 Bungursari yang telah memiliki galeri ekoprint sendiri.
- Workshop Eco & Gym: Pemanfaatan limbah buah menjadi produk bermanfaat.
- Workshop Bekal Makanan Sehat: Edukasi gizi seimbang untuk siswa yang telah membawa bekal makanan sejak 2015.
- Workshop Rajut: Melatih ketekunan dan ketelatenan siswa melalui seni rajut.
- Workshop Kombucha: Pengenalan minuman probiotik sehat kepada guru dan siswa.
- Workshop Mindfulness: Meningkatkan kesadaran guru dan siswa dalam pembelajaran.
- Workshop Merangkai Bunga: Melatih kreativitas siswa menggunakan bunga dari halaman sekolah untuk memperindah ruang kelas.
“Festival ini bertujuan membangun karakter siswa melalui kegiatan berbasis ekologi dan budaya. Kami ingin anak-anak belajar dengan kesadaran penuh, memahami lingkungan, dan mengembangkan kreativitas,” ungkap Purwantono. (PRO 93.1 FM)


