PURWAKARTA – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) RAMAH 2025 di lingkungan SMPIT–SMKIT Assyafaq Rana Mihardja Purwakarta resmi ditutup pada Jumat (18/7/2025). Mengusung tema “Learning to Learn (Belajar untuk Belajar)”, kegiatan MPLS selama lima hari ini menjadi momentum penting dalam membentuk kesadaran belajar dan karakter siswa baru secara menyeluruh.
Kepala Sekolah SMPIT–SMKIT Assyafaq Rana Mihardja, Ade Syarifudin, menegaskan bahwa konsep MPLS tahun ini dibuat berbeda dari sekolah pada umumnya. Pihak sekolah menggabungkan nilai Islam Terpadu, sistem kepesantrenan, dan kurikulum nasional, tanpa mengabaikan pedoman resmi dari Dinas Pendidikan dan KCD.
“Kami tetap mengikuti juknis dari KCD, termasuk 9 DSL, 8 DSL, kebiasaan anak hebat Indonesia, pendidikan antikorupsi, hingga pencegahan bullying. Namun semuanya dikemas dalam konsep khas Assyafaq yang mengedepankan prinsip pembelajaran mendalam yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan,” kata Ade.
Tiga Pilar Utama MPLS RAMAH 2025
- BerkeSADARan – Menumbuhkan kesadaran siswa secara mandiri terhadap lingkungan, tata tertib, kebersihan, dan disiplin.
- BerkeMAKNAan – Memberikan pengalaman belajar yang aplikatif dan relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa, baik di sekolah maupun di rumah.
- MengGEMBIRAKAN – Menciptakan suasana MPLS yang menyenangkan dan membahagiakan, sehingga siswa merasa senang datang ke sekolah dan mengikuti kegiatan belajar.
Kolaborasi Menyeluruh Seluruh Stakeholder Sekolah
Ade menambahkan MPLS tidak hanya dijalankan oleh tim pengajar, tetapi juga melibatkan semua unsur sekolah, termasuk staf tata usaha dan pengurus pondok pesantren. Para guru didorong berperan aktif sebagai pemateri, moderator, dan koordinator. Bahkan pimpinan pondok, Ustadz Ujang, juga turut memberikan materi pembinaan rohani dan nilai-nilai kehidupan santri kepada siswa baru.
“Semua dilibatkan. Kami membangun semangat gotong royong dan kekeluargaan dalam proses belajar,” tambah Ade.

Aksi Ekologi dan Gerakan Berkelanjutan
Lebih lanjut Ade menjelaskan Salah satu aksi nyata dalam MPLS adalah kegiatan pungut sampah plastik secara gotong-royong di area sekolah dan lingkungan sekitar. Hal ini sejalan dengan arahan KCD dalam membangun kesadaran ekologi.
“Kami tidak ingin ini hanya jadi seremonial. Ke depan, kami akan membiasakan anak-anak untuk berkebun, memanen hasil, dan menjaga lingkungan setiap hari. Itu akan menjadi bagian dari kurikulum harian,” jelas Ade.
Melalui MPLS RAMAH 2025, pihak sekolah berharap peserta didik baru dapat tumbuh sebagai individu yang Belajar karena kesadaran dari dalam, bukan sekadar kewajiban, Mengerti makna dan tujuan dari apa yang dipelajari dan Menjadi pribadi yang bahagia dalam menjalani proses belajar.
“Kami ingin siswa belajar dengan hati, tidak hanya karena sistem, tapi karena mereka benar-benar ingin tumbuh dan berkembang,” tutupnya. (ME – PRO 93.10 FM)


