Peringati Poe Basa Indung, Disporaparbud Kabupaten Purwakarta Adakan Workshop Mieling Poe Basa

PURWAKARTA – Dinas Kepemudaan, Olahraga, Pariwisata dan Kebudayaan (Disporaparbud) Kabupaten Purwakarta melalui Bidang Kebudayaan menggelar Workshop Mieling Poe Basa Indung di Gedung Creative Centre Purwakarta, Kamis (6/6/2024).

Kegiatan ini digelar sebagai wujud Komitmen dalam melestarikan bahasa Sunda sebagai salah satu objek budaya di kabupaten Purwakarta, sekaligus memperingati Poe Basa Indung Tahun 2024.

Acara ini pun diisi dengan berbagai materi terkait dengan bahasa Sunda, seperti Pewarisan Bahasa Sunda melalui seni bagi generasi muda oleh Pembina Yayasan Gemi Raspita Bandung Neneng Dinar, Strategi Pembelajaran Mempertahankan Bahasa Sunda di era Millenial oleh Dosen Pendidikan Bahasa Sunda Universitas Pendidikan Indonesia Dian Hendrayana, S.S, M. Pd juga Micatur Basa Indung, Nyarita Basa Sunda : Ikhtiar Ngamumule Budaya Bangsa oleh Budayawan Purwakarta Budi Rahayu Tamsyah atau yang dikenal sebagai (Kang Adud).

Kepala Bidang Kebudayaan, Wawan Supriatna mengatakan acara yang dilaksanakan ini berdasar pada Undang-Undang nomor 5 tahun 2017 tentang pemajuan kebudayaan.

“Kegiatan Mieling Poe Basa Indung yang dilaksanakan di Kabupaten Purwakarta ini, tentunya berdasar pada Undang-Undang nomor 5 tahun 2017 tentang pemajuan kebudayaan, karena objek pemajuan kebudayaan itu ada 10 indikator, salah satunya adalah bahasa,” kata Wawan

Wawan menegaskan bahwa bahasa merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kebudayaan. Berkaitan dengan itu, Wawan berharap dengan adanya kegiatan ini, generasi muda bisa dan mampu menerapkan bahasa daerahnya, terkhusus bahasa Sunda untuk siswa-siswi di Kabupaten Purwakarta.

“Dari kegiatan ini, walaupun kita hanya melibatkan siswa-siswi SLTA tentu berharap kedepannya bahasa indung itu tidak hanya menjadi bahasa lokal yang hanya dipergunakan oleh masyarakat Jawa Barat saja, tetapi juga bisa lebih luas daripada itu,” harap Wawan.

Sementara itu, Dosen Pendidikan Bahasa Sunda Universitas Pendidikan Indonesia, Dian Hendrayana sebagai pemateri pada acara ini menuturkan bahwa bahasa sunda di Purwakarta itu termasuk bahasa sunnah dan potensi Purwakarta tentang bahasa sunnah harus dipertahankan dan dipelihara.

“Saya melihat di Purwakarta itu potensi terhadap bahasa indungnya itu banyak. Indikatornya adalah pengarang-pengarang Sunda dari Purwakarta, saat ini cukup produktif. Ada Firda Awaliya, Prayoga dan ada Walid yang paling muda,” tutur Dian.

Selain itu, Pembina Yayasan Gemi Raspita Bandung Neneng Dinar yang merupakan salah satu pemateri workshop Mieling Poe Basa, mengajak kaum milenial untuk terbiasa dan tidak malu menggunakan bahasa sunda.

“Untuk para anak muda, jangan gengsi dan jangan malu kalau ngomong pakai bahasa sunda. Penggunaan bahasa sunda itu menjadi ciri untuk suatu bangsa. Kalau bahasanya hilang nanti bangsanya hilang, ditakutkan seperti itu. Mudah-mudahan bahasa sunda bisa berdiri lagi di masyarakat khususnya di Purwakarta istimewa,” ajak Neneng. (PRO 93.10 FM)

Tinggalkan Komentar

error: Klik Play Streaming
%d blogger menyukai ini: