PURWAKARTA – Memperingati Hari Kebangkitan Nasional ke-117, ribuan pengemudi ojek online (ojol) di Kabupaten Purwakarta menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Bupati Purwakarta, Selasa, 20 Mei 2025.
Para pengemudi datang sambil mendorong sepeda motor mereka dari Patung Egrang hingga Kantor Bupati, sebagai bentuk simbolik perlawanan terhadap aplikator layanan transportasi online. Mereka menilai, sistem yang diterapkan aplikator penuh dengan ketidakjelasan, diskriminasi, dan tidak berpihak kepada pengemudi.
Sebelum memadati Kantor Bupati, para peserta aksi sempat melakukan konvoi dari kawasan Sadang hingga pusat kota Purwakarta.
Tiga Tuntutan Utama Driver Ojol
Menanggapi aksi tersebut, Sekretaris Daerah Kabupaten Purwakarta, Norman Nugraha, menyatakan bahwa pihaknya telah berdialog dengan perwakilan pengemudi ojol. Dari pertemuan itu, pihak Pemkab merangkum tiga poin utama yang menjadi aspirasi dan tuntutan para driver:
- Tetapkan regulasi tarif yang layak kepada driver online yang diatur oleh pemerintah.
- Hapus program-program aplikator yang sangat merugikan driver online.
- Dorongan agar segera diterbitkan regulasi payung hukum yang jelas untuk melindungi pengemudi ojek online.
“Menyikapi tuntutan tersebut, kami sampaikan bahwa saat ini Pemerintah Provinsi Jawa Barat sedang menyusun dan hampir menyelesaikan Peraturan Gubernur terkait pengawasan dan pengendalian tarif layanan transportasi online,” ujar Norman.
Ia menambahkan, regulasi tersebut diharapkan dapat memberikan payung hukum yang kuat terhadap keberadaan dan kesejahteraan pengemudi ojol, terutama dalam hal perlindungan dan keadilan tarif.
Harapan dari Driver dan Pengguna
Davit Ferdian, driver ojol sekaligus anggota Gerakan Aliansi Ojol Purwakarta (GAOP), mengungkapkan harapannya agar aksi ini mampu menggugah pihak aplikator untuk lebih adil terhadap mitra pengemudinya.
“Kami ingin suara kami didengar. Kami bukan sekadar angka dalam aplikasi. Kami ingin kebijakan yang adil dan menjamin kesejahteraan kami,” tegas Davit.
Sementara itu, Sahrul, warga Purwakarta yang sering menggunakan layanan ojol, turut menyatakan keprihatinannya. Ia mengaku kerap mendengar langsung keluhan driver yang harus bekerja keras seharian demi menafkahi keluarga, namun tidak mendapatkan perhatian dari aplikator.
“Saya dengar langsung, mereka mengeluh soal sistem yang tidak adil. Kadang merasa seperti diperas tanpa perlindungan yang layak,” kata Sahrul. (PRO 93.10 FM)


